Politik

Dua calon presiden peserta Pilpres 2019, Prabowo Subianto dan Joko Widodo.

Adu Gimik Jokowi dan Prabowo Jelang Debat Capres Perdana 2019

Admin 2 | Kamis, 17 Januari 2019 - 11:06:01 WIB | dibaca: 839 pembaca

Jelang debat capres 2019, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo terlihat makin agresif. Jokowi bahkan sempat menyentil lawannya di Pilpres 2019.

Saat deklarasi dukungan alumni UI, Jokowi mengatakan calon pemimpin negara harus memiliki pengalaman di bidang pemerintahan. Dia pun menyebutkan pengalaman dan prestasinya sebagai pemimpin di tingkat kota hingga presiden.

Sebelumnya, Jokowi juga beberapa kali melontarkan pernyataan yang cukup keras, mulai dari politikus genderuwo hingga sontoloyo.

Sebaliknya, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dianggap gagal menunjukkan karakter yang sesungguhnya. Hal itu tampak ketika Prabowo menyampaikan pidato kebangsaan awal pekan lalu.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah menilai Prabowo gagal tampil menakutkan dan membahayakan, sebagaimana citra yang selama ini melekat pada karakter mantan Danjen Kopassus itu.

Direktur Eksekutif Media Survei Nasional Rico Marbun menilai sikap Jokowi yang semakin agresif tak lepas dari serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh kubu Prabowo. Dia menilai serangan itu berdampak pada elektabilitas Jokowi yang cenderung stagnan sebagai capres petahana.

Rico mengatakan beberapa hasil survei menyebut tingkat elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin tak pernah berhasil mencapai angka di atas 70 persen. Meski masih unggul dari lawannya, namun tingkat elektabilitas Jokowi-Ma'ruf terlampau minim sebagai petahana.

"Itu terjadi karena serangan agresif dari oposisi. Maka dari itu Pak Jokowi pun menyerang balik karena berprinsip menyerang adalah pertahanan yang terbaik,"

Terlepas dari hal tersebut, Rico menilai serangan agresif yang selama ini dilakukan kubu Jokowi tak akan berdampak positif pada elektabilitasnya sebagai petahana. Menurutnya, kubu Jokowi justru harus lebih berhati-hati dalam menunjukkan sikap menyerang kepada lawan.

"Apakah punya konsekuensi positif ya, belum tentu. Kalau tidak dikelola hati-hati dia akan kehilangan jati diri yang selama ini dianggap lembut dan merakyat," ucapnya.

 

(Awal Sk)










Komentar Via Website : 1
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)